BAB 9: SISTEM BILANGAN DAN KODE
A.
Pengantar
Sistem Bilangan
1.
Apa
itu Sistem Bilangan
a.
Sistem
bilangan adalah cara merepresentasikan besaran menggunakan simbol-simbol
(angka)
b.
Manusia
menggunakan desimal (basis 10) — 10 jari sebagai dasar
c.
Komputer
menggunakan biner (basis 2)
d.
Digital
hanya mengenal dua level tegangan
2.
Mengapa
Biner?
a.
Sistem
elektronik mudah mengimplementasikan dua keadaan
b.
Kebalikan
dari analog
c.
Matematika
biner sederhana
d.
Biner
menjadi dasar semua sistem digital modern
3.
Konsep
Radix (Basis)
a.
Radix
adalah jumlah simbol unik
b.
Desimal
(radix 10)
c.
Biner
(radix 2)
d.
Nilai
posisi
B.
Sistem
Bilangan Biner (Base-2)
1.
Representasi
Biner
a.
Bilangan
biner terdiri dari bit (binary digit)
b.
Nilai
posisi
c.
Contoh:
1011₂ = 1×2³ + 0×2² + 1×2¹ + 1×2⁰ = 11₁₀
d.
MSB
(Most Significant Bit), paling kanan = LSB (Least Significant Bit)
2.
Konversi
Biner ke Desimal
a.
Metode
b.
Contoh:
11010₂ = 1×16 + 1×8 + 0×4 + 1×2 + 0×1 = 26₁₀
c.
Latihan
konversi berbagai nilai
d.
Panjang
bit menentukan rentang nilai
3.
Konversi
Desimal ke Biner
a.
Metode
pembagian berulang (division by 2)
b.
Metode
pengurangan bobot terbesar
c.
Contoh:
45₁₀ = 32 + 8 + 4 + 1 = 101101₂
d.
Latihan
konversi berbagai nilai
C.
Sistem
Bilangan Oktal (Base-8)
1.
Representasi
Oktal
a.
Oktal
menggunakan 8 simbol
b.
Nilai
posisi
c.
Contoh:
572₈ = 5×64 + 7×8 + 2×1 = 378₁₀
d.
Digunakan
sebagai notasi singkat untuk biner (3 bit = 1 digit oktal)
2.
Konversi
Oktal ke Biner
a.
Setiap
digit oktal = 3 bit biner
b.
Contoh:
5₈ = 101₂, 7₈ = 111₂, 2₈ = 010₂
c.
572₈
= 101 111 010₂
d.
Sangat
berguna untuk membaca kode mesin dan alamat memori
3.
Konversi
Biner ke Oktal
a.
Kelompokkan
bit dari LSB ke MSB (tiap 3 bit)
b.
Tambahkan
nol di depan jika perlu
c.
Konversi
setiap grup 3 bit ke digit oktal
d.
Contoh:
10111010₂ = 010 111 010 = 272₈
D.
Sistem
Bilangan Heksadesimal (Base-16)
1.
Representasi
Heksadesimal
a.
Heksadesimal
menggunakan 16 simbol
b.
A=10,
B=11, C=12, D=13, E=14, F=15
c.
Nilai
posisi
d.
Contoh:
2F₈ = 2×16 + 15×1 = 47₁₀
2.
Konversi
Heksadesimal ke Biner
a.
Setiap
digit heksadesimal = 4 bit biner
b.
Contoh:
2₈ = 0010₂, F₈ = 1111₂
c.
2F₈
= 0010 1111₂
d.
Notasi
standar untuk alamat memori dan kode warna (RGB)
3.
Konversi
Biner ke Heksadesimal
a.
Kelompokkan
bit dari LSB ke MSB (tiap 4 bit)
b.
Tambahkan
nol di depan jika perlu
c.
Konversi
setiap grup 4 bit ke digit heksadesimal
d.
Contoh:
10111100₂ = 1011 1100 = BC₁₆
4.
Konversi
Heksadesimal ke Desimal dan Sebaliknya
a.
Heksadesimal
ke decimal
b.
Desimal
ke heksadesimal
c.
Contoh:
255₁₀ = FF₁₆
d.
Contoh:
3E8₁₆ = 3×256 + 14×16 + 8 = 1000₁₀
E.
Aritmatika
Biner
1.
Penjumlahan
Biner
a.
Aturan:
0+0=0, 0+1=1, 1+0=1, 1+1=0 (simpan 1)
b.
Carry
(simpanan) terjadi jika hasil = 2
c.
Contoh:
1011 + 0110 = 10001
d.
Half-adder
dan full-adder (implementasi gerbang logika)
2.
Pengurangan
Biner
a.
Menggunakan
metode komplemen (komplemen 1 dan 2)
b.
Komplemen
1
c.
Komplemen
2
d.
Pengurangan
= penjumlahan dengan komplemen 2 dari pengurang
3.
Perkalian
dan Pembagian Biner
a.
Perkalian
biner
b.
Contoh:
11₂ × 10₂ = 110₂
c.
Pembagian
biner
d.
Shift
register digunakan untuk implementasi hardware
F.
Bilangan
Bertanda (Signed Numbers)
1.
Sign-Magnitude
a.
Bit
paling kiri (MSB) sebagai tanda — 0 = positif, 1 = negative
b.
Sisa
bit menunjukkan magnitude (besar)
c.
Kelemahan
d.
Jarang
digunakan di sistem modern
2.
Komplemen
1 (One's Complement)
a.
Bilangan
negatif = inversi semua bit
b.
Contoh:
0011 (3) → 1100 (-3)
c.
Kelemahan
d.
Rentang
3.
Komplemen
2 (Two's Complement)
a.
Bilangan
negatif = inversi semua bit + 1
b.
Contoh:
0011 (3) → 1100 + 1 = 1101 (-3)
c.
Tidak
ada dua nilai nol
d.
Rentang
4.
Overflow
dan Underflow
a.
Overflow
b.
Underflow
c.
Deteksi
overflow
d.
Penting
dalam desain ALU dan pemrograman
G.
Kode-Kode
Digital
1.
BCD
(Binary Coded Decimal)
a.
Setiap
digit desimal dikodekan dalam 4 bit biner
b.
Contoh:
19₁₀ = 0001 1001 (BCD)
c.
Digunakan
pada display 7-segment dan aplikasi komersial
d.
BCD
vs Biner murni
2.
Excess-3
dan Gray Code
a.
Excess-3
= BCD + 3
b.
Gray
code
c.
Keunggulan
Gray code
d.
Aplikasi
Gray code
3.
ASCII
(American Standard Code for Information Interchange)
a.
7-bit
atau 8-bit kode untuk karakter
b.
Contoh:
'A' = 41₁₆ (65₁₀), 'a' = 61₁₆ (97₁₀)
c.
Digunakan
untuk komunikasi teks antar perangkat
d.
Perluasan
4.
Error
Detection Code (Parity)
a.
Parity
bit
b.
Even
parity
c.
Odd
parity
d.
Dapat
mendeteksi kesalahan 1 bit (tidak bisa mengoreksi)
Komentar
Posting Komentar